Askep Pasien INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

DEFINISI

Infeksi tractus urinarius adalah merupakan suatu keadaan dimana adanya suatu proses peradangan yang akut ataupun kronis dari ginjal ataupun saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal, jaringan interstisial dan tubulus ginjal (pielonefritis), atau kandung kemih (Cystitis), dan urethra (uretritis)

Infeksi pada saluran kemih ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Infeksi saluran kemih bagian atas : Pyelonefriti

2. Infeksi saluran kemih bagian bawah : Cystitis, Uretritis.

FAKTOR RESIKO

Pada umumnya faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan infeksi saluran kemih adalah :

1. Wanita cenderung mudah terserang dibandingkan dengan laki-laki.

Faktor-faktor postulasi dari tingkat infeksi yang tinggi terdiri dari urethra dekat kepada rektum dan kurang proteksi sekresi prostat dibandingkan dengn pria.

2. Abnormalitas Struktural dan Fungsional

Mekanisme yang berhubungan termasuk stasis urine yang merupakan media untuk kultur bakteri, refluks urine yang infeksi lebih tinggi pada saluran kemih dan peningkatan tekanan hidrostatik.

Contoh : strikur,anomali ketidak sempurnaan hubungan uretero vesicalis

3. Obstruksi

Contoh : tumor, Hipertofi prostat, calculus, sebab-sebab iatrogenik

4. Gangguan inervasi kandung kemih

Contoh : Malformasi sum-sum tulang belakang kongenital, multiple sklerosis

5. Penyakit kronis

Contoh : Gout, DM, hipertensi, Penyakit Sickle cell.

6. Instrumentasi

Contoh : prosedur kateterisasi.

7. Penggunaan fenasetin secara terus menerus dan tidak pada tempatnya

ETIOLOGI

Organisme penyebab infeksi tractus urinarius yang paling sering ditemukan adalah Eschericia Coli, (80% kasus). E. Colli merupakan penghuni normal dari kolon. Organisme-organisme lain yang juga dapat menyebabkan infeksi saluran perkemihan adalah : Golongan Proteus, Klebsiela, Pseudomonas, enterokokus dan staphylokokus.


Baca Juga Artikel tentang PPNI

READ MORE

Askep Tumor Otak

Sobat ners semua,...setelah setahun lebih lamanya saya ga posting askep, rindu rasanya hati ini ingin berbagi dengan kawan semua.

Kali ini saya akan mencoba untuk memulai posting kembali dengan judul Asuhan Keperawatan Tumor Otak. Tulisan kali ini tidak akan saya lengkapi dengan link download seperti biasanya, akan tetapi askep akan saya posting langsung di masing-masing halaman.

Ok..langsung saja....

ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR OTAK


Pendahuluan
• Manusia hidup selalu membutuhkan oksigen untuk mempertahankan kehidpanya. Kegagalan untuk memberikan oksigenasi secara adekuat ke otak dan organ vital lainnya dapat merupakan penyebab kematian tercepat pada penderita trauma atau non trauma.
• untuk mencegah hipoksia maka diperlukan jalan nafas yg bebas, pernafasan dan sirkulasi darah yang cukup untk membawa oksigen keseluruh tubuh.
• Airway menjadi prioritas utama menangani setiap pasien yg ditemui pada kasus gawat darurat.
• Perawatan terhadap kondisi kritis dan trauma pada pasien yang paling utama adalah mempertahankan jalan nafas hingga adekuat, karna sumbatan jalan nafas merupakan penyebab kematian tercepat.


Etiologi
Penyebab dari tumor belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang menunjukan bahwa beberapa agent bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliptu faktor herediter, kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma cerebral dan penyakit peradangan. (Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977; Merrit, 1979). Metastase ke otak dari tumor bagian tubuh lain juga dapat terjadi. Karsinoma metastase lebih sering menuju ke otak dari pada sarkoma. Lokasi utama dari tumor otak metastase berasal dari paru-paru dan payudara.

Patofisiologi
Tumor intracranial primer atau neoplasma adalah suatu peningkatan sel-sel intrinsik dari jaringan otak dan kelenjar pituitari dan pineal.

Tumor sekunder/metastase merupakan penyebab tumor intracranial, kebanyakan merupakan metastase dari tumor paru-paru dan payudara.

Prognosis untuk pasien dengan tumor intra cranial tergantung pada diagnosa awal dan penanganannya, sebab pertumbuhan tumor akan menekan pada pusat vital dan menyebabkan kerusakan serta kematian otak. Meskipun setengah dari seluruh tumor adalah jinak, dapat juga menyebabkan kematian bila menekan pusat vital.

Gejala-gejala dari tumor intra cranial akibat efk lokal dam umum dari tumor. Efek lokal berupa infiltrasi, invasi an pengrusakan jaringan otak pada bagian tertentu. Ada juga yang langsung menekan pada struktur saraf, menyebabkan degenerasi dan gangguan sirkulasi lokal.

Edema dapat berkembang dan terjadi peningkatan takanan intracranial (TIK). Peningkatan TIK akan dipindahkan melalui otak dan sistem ventrikel. Dapat juga terjadi sistem ventrikel ditekan dan diganti sehingga menyebabkan obstruksi sebagian vebtrikel. Papilledema akibat dari efek umum dari peningkatan TIK, kematian biasanya akibat dari kompressi otak tengah akibat herniasi.

Tipe Tumor Intracranial


1. Glioma terdiri dari :
• Glioblastoma multiforme
• Astrocytoma
• Ependymoma
• Medulloblastoma
• Oligodendrocytoma

2. Meningioma
3. Pituitary Adenoma
4. Neurinoma
5. Metastatic Carcinoma
6. Craniophryngioma, Dermoid, Epidermoid, Teratoma
7. Angiomas
8. Sarcomas
9. Unclassified (mostly gliomas)
10. Miscellaous (Pinealoma, Chordoma, Granuloma)


Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari CSF)
• Sakit kepala
• Nausea atau muntah proyektil
• Pusing
• Perubahan mental
• Kejang

Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari otak)
1. Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus, diplopia, kebutaan, tanda-tanda papil edema.
2. Perubahan bicara, msalnya: aphasia
3. Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi sensorik.
4. Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis.
5. Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin, dan konstipasi.
6. Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness.
7. Perubahan dalam seksual
8. Tanda-tanda dan gejala-gejala spesifik lesi dari masing-masing lobus dapat dilihat pada tabel di bawah ini


Pengkajian
Data Subyektif
1. Pemahaman pasien tentang penyakitnya
2. Perubahan dalam individu atau pertimbangan
3. Adanya ketidakmampuan sensasi ( parathesia atau anasthesia)
4. Masalah penglihatan (hilangnya ketajaman atau diplopia)
5. Mengeluh bau yang tidak biasanya (sering tumor otak pada lobus temporale)
6. Adanya sakit kepala
7. Ketidakmampaun dalam aktifitas sehari-hari.

Data Obyektif
1. Kekuatan pergerakan
2. Berjalan
3. Tingkat kewaspadaan dan kesadaran
4. Orientasi
5. Pupil : ukuran, kesamaan, dan reaksi
6. Tanda-tanda vital
7. Pemeriksaan funduscopy untuk mengetahui papilaedema
8. Adanya kejang
9. Ketidaknormalan berbicara
10. Ketidaknormalan saraf-saraf kranial
11. Gejala-gejala peningkatan tekanan intracranial

Diagnosa keperawatan
1. Kecemasan
2. Perubahan dalam rasa nyaman : nyeri
3. Gangguan komunikasi verbal
4. Bersedih Kurangnya pengetahuan
5. Gangguan mobilitas fisik
6. Perubahan persepsi sensorik : auditary, visual, kinestetik, gustatory, tactile.
7. Gangguan proses berpikir
8. Gangguan perfusi jaringan cerebral

Perencanaan dan pelaksanaan
Tujuan pasien yang diharapkan :
1. Pasien dapat melakukan aktifitas sehari-hari semaksimal mungkin
2. Pasien dapat menjelaskan terapi spesifik dan tujuan yang diharapkan.
3. Pasien dapat menjelaskan tanda-tanda dan gejala-gejala yang perlu dilaporkan kepada dokter.
4. Pasien dapat menjelaskan obat-obat yang didapat, meliputi : dosis, efek samping, efek yang diharapkan, cara pemberian dan waktunya.
5. Pasien dapat menjelaskan tentang perawatan kulit dan hubungannya dengan radiasi.
6. Pasien dapat menjelaskan rencana untuk perawatan tindak lanjut.
7. Pasien dapat menjelaskan dan memperlihatkan latihan yang telah ditetapkan.
8. Pasien dapat menjelaskan tentang bagaimana mendapat dukungan masyarakat.
9. Pasien dapat menjelaskan tentang perawatan pre operasi dan pasca operasi.
10. Pasien dapat mengungkapkan ketakutan-ketakutan mengenai hubungannya dengan diagnosa.

Pelaksanaannya
Metode umum untuk penatalaksanaan tumor otak meliputi :
• Pembedahan
• Radioterapi
• Chemoterapi

Pemilihan terapi ditentukan dengan tipe dan letak dari tumor. Suatu kombinasi metode sering dilakukan.

Pembedahan
Pembedahan intracranial biasanya dilakukan untuk seluruh tipe kondisi patologi dari otak untuk mengurangi ICP dan mengangkat tumor.
Pembedahan ini dilakukan melalui pembukaan tengkorak, yang disebut dengan Craniotomy.

Perawatan pre operasi pada pasien yang dilakukan pembedahan intra cranial adalah :
a) Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien
b) Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi perasaan-perasaan takut yang dialami.
c) Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk meyakinkan pasien dan mengurangi perasaan takut.
d) Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan shampo antiseptik dan mencukur daerah kepala.
e) Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan pembedahan, meliputi :
• Baluatan kepala
• Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka
• Menurunnya status mental sementara

Perawatan post operasi, meliputi :
a) Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit untuk 4 - 6 jam pertama setelah pembedahan dan kemudian setiap jam. Jika kondisi stabil pada 24 jam frekuensi pemeriksaan dapat diturunkan setiap 2 samapai 4 jam sekali.
b) Monitor adanya cardiac arrhytmia pada pembedahan fossa posterior akibat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
c) Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar 1.500 cc / hari.
d) Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas setiap pergantian dinas.
e) Pasien dapat dibantu untuk alih posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam.
f) Posisi kepala dapat ditinggikan 30 -35 derajat untuk meningkatkan aliran balik dari kepala. Hindari fleksi posisi panggul dan leher.
g) Cek sesering mungkin balutan kepala dan drainage cairan yang keluar.
h) Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin, seperti : pemeriksaan darah lengkap, serum elektroit dan osmolaritas, PT, PTT, analisa gas darah.
i) Memberikan obat-obatan sebagaimana program, misalnya : antikonvulsi,antasida, atau antihistamin reseptor, kortikosteroid.
j) Melakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi post operasi.


Hydrocephalus
Biasanya suatu kateter diletakan pada suatu ventrikel dari otak untuk mengalirkan cairan spinal yang berlebihan dan untuk mencegah hydrocephalus dan penigkatan TIK.

Hydrocephalus dapat juga terjadi secara permanen pada tumor intracranial dan biasanya dimanifestasikan dengan gejala-gejala peningkatan TIK. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan “Shunting”

Ada beberapa tipe dari prosedur shunnting, hal ini dapat dinamakan menurut asal dan akhir pada shunt tersebut dipasang. Diantaranya adalah :
• Cyst - peritoneal
• Lumbar - Peritoneal
• Ventrikuler - Jugular
• Ventrikuler - Peritoneal

Perawatan post opeasi pada pasien dengan shunt adalah :

Monitoring
• Mengkaji status neurologis sesering mungkin untuk beberpa penurunan dalam status mental.
• Observasi adanya gejala-gejala subdural hematoma, yang merupakan salah satu efek sampaing pembedahan.
• Monitor gejala-gejala aliran yang berlebihan, sebagaimana dirasakan dengan sakit kepala, khususnya pada saat pasien duduk lebih tinggi atau berdiri.
• Mengkaji derajat dan karakter dari drainage.

Mempertahankan status gastrointestinal
• Mengecek sesering mungkin untuk tanda-tanda dari paralisis ileus, karena manipulasi usus besar dapat terjadi akibat diletakkan shunt pada bagian peritoneal.
• Pasien dipuasakan untuk hari pertama dan kemudian dpaat diberikan air putih secara bertahap.
• Pemberian makanan dapat dimulai segera setelah bising usus ada, dimana pasien mulai makan cair.

Pertahankan rasa nyaman
• Memberikan obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri
• Memperhatikan agar tidak tertekan daerah insisi.

Meningkatkan pergerakan
• Pergantian posisi dapat dilakukan.
• Meningkatkan bagian kepala temapat tidur secara perlahan-lahan pada saat mobilisasi
• Pasien dapat dianjurkan untuk ambulasi segera setelah penurunan tekanan intracranial.


Komplikasi post operasi
1. Edema cerebral
2. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral
3. Hypovolemik syok
4. Hydrocephalus
5. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus)
6. Infeksi luka operasi.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

• Ignatavicius D Donna, Medical Surgical Nursing, WB. Saunders Company, Philadelphia, 1991
• Long C. Barbara, Essential of Medical Surgical Nursing, CV. Mosby Company, St. Louis, 1985
• Vogt Gordon. Manual of Neurological Care, CV. Mosby Company, St Louis, 1985
READ MORE

Nurse Autonomy in Cancer Care

Salam sukses,

kawan sejawat semua, apa kabar?? saya baru posting lagi saat ini, dikarenakan sangat sibuk sekali. ya maklum lah...banyak sekali yang harus saya persiapkan. Mohon doa restu juaga untuk elanjutkan pendidikan ke jenjang Magister. Kali ini saya ingin posting sebuah jurnal yang saya dapatkan di internet juga. posting kali ini seputar kanker


Background: The concept of autonomy is regarded as an essential element for gaining professional status. Yet, it remains poorly defined and understood. To date, there is little research that has focused on exploring how nurses in different specialty areas perceive autonomy.

Objective: The purpose of this research was to explore oncology nurses' perceptions of autonomy and understand how they develop and exhibit autonomy in their everyday practice.

Methods: Using Leininger's ethnonursing method, data were collected from 15 oncology nurses using semistructured interviews. Participant observation was also carried out through job shadowing to complement interview data.

Results: Three themes emerged from the findings: autonomy is an unspoken opportunity in the workplace; autonomy is developed through professional and personal growth acquired over time; and demonstrating autonomous behaviors is a conscious choice.

Conclusion: The findings provide insight into how oncology nurses perceive, develop, and exhibit autonomy in everyday practice and how autonomous and collaborative clinical decision making contributes to quality cancer care.

Implications for Practice: Descriptions of the meaning of autonomy and its explication in a nursing specialty practice can add to nursing knowledge by clarifying nurse autonomy and its relevance to nurses' work life. Descriptive studies can identify nurse behaviors and attitudes related to autonomy that may be measurable and relevant to real life.

Untuk mendownload versi lengkapnya dalam PDF silahkan klik disini

READ MORE

Askep Lansia Dengan Reumatik

Share/Bookmark
PENDAHULUAN

Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis.

Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia. Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik.

Timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti. Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom dan golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri.

Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi., kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982)

Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo,1994).


KONSEP DASAR MEDIS

Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur klain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat.

Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu :

Osteoartritis.
Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.

Artritis Rematoid.
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.

Polimialgia Reumatik.
Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas.

Artritis Gout (Pirai).
Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause.

Next....?????
silahkan download link dibawah ini untuk mendapatkan full versionnya atau jika anda ingin membaca tentang askep dengan masalah tumor otak, klik mpada linknya.


SUSES....SS..S..S..S.S
READ MORE

Askep Gangguan Muskulokeletal

Share/Bookmark
salam sejahtera,
assalamu'alaikum wr. wb

sobat neter semua, sudah lama saya belum posting. saya mohon maf yang sebesar-besarnya pada yang aktif mengikuti perkembangan blog kesayangan kita ini. Ma'lumlah akhir akhir ini saya banyak sekali kediatan yang membuat saya terlalu sibuk. Oya kali ini saya akan posting tentang askep gangguan muskulokeletal, sebelumnya kita juga udah posting banyak seperti askep dengan tumor otak, nah bagi yang baru ngikutin blog ini silahkan klik linknya aja.

Oke marri kkita mulai......

asuhan keperawatan denga muskulokeletal adalah salahsatu bagian dari ruang lingkup ilmu keperawatan yang sangat perlu juga kita perhatikan, karena sangat banyak sekali kasus yang berhubungan pada askep dengan muskulokeletal. nah maka dari itu tentunya harus menguasai konsep dan teori tentang hal ini.

pada dasarnya semua kasus sangat penting, tapi seperti biasa perlu kita perhatikan kondisi kegawat daruratannya. oke dah ga usah panjang-panjang nulisnya, nanti palah jadi munyeng....okey silahkan download materinya aja langsung. klik pada link download dibawah


Salam Jabat Erat
READ MORE

askep penyakit asma bronkial

Share/BookmarkPengertian
Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society )

Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe,
yaitu :
  • Ekstrinsik (alergik) : Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
  • Intrinsik (non alergik) : Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan
  • Asma gabungan : Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.
Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial.
  • Faktor predisposisi yaitu Genetik : Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitassaluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
  • Faktor presipitasi
Alergen : Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
  1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
  2. Ingestan, yang masuk melalui mulut ex: makanan dan obat-obatan
  3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.

Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belumbisa diobati.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja dilaboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.


Untuk lengkapnya silahkan download melalui link di bawah ini atau melihat askep dengan tumor otak


READ MORE

askep kanker paru

Share/Bookmark

PENGERTIAN

Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995)
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).

ETIOLOGI

Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru :

Merokok.
Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor.

Iradiasi
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.

Kanker paru akibat kerja
Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden.

Polusi udara
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota.

( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).

Genetik
Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni :

  • Proton oncogen
  • Tumor suppressor
  • Gene encoding enzyme.

Teori Onkogenesis

Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah- programmed cell death). Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya

Diet

Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, seleniumdan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru

(Ilmu Penyakit Dalam, 2001).

Untuk lebih lengkapnya silahkan klik link download dibawah ini atau askep anak


READ MORE

Proses Keperawatan (pengkajian keperawatan)

Share/Bookmarkselamat pagi rekan neter semua....
ketika saya posting waktu udah jam 02.00 pagi hih, lagi nyoba-nyoba conect dari rumah pake im3. akhirnya setelah perjalanan yang panjang bisa conect juga he..he...

saya jadi inget untuk posting, nah rekan sejawat semua kali ini posting saya tentang proses keperawatan. sebelumnnya kita udah posting tentang dokumentasi dan banyak lainnya seperti askep anak dll.

Proses keperawatan meliputi :
  • Pengkajian
  • Intervensi
  • Implementasi
  • Dokumentasi
langsung saja, saya ingin mencoba memberikan sedikit pengetahuan tentang proses keperawatan terutama yang akan kita bahas sekarang adalah pengkajian keperawatan. mungkin kita awali dengan definisi kali ya,

menurut (Effendy, 1995). Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan

nah dari pengertian saja kita sangat tahu kalu pengkajian itu adalah faktor utama dalam penegakan masalah. saya sangat setujudengan pendapat diatas karena dengan pengkajian semua masalah dapat terungkap baik secara alo anamnesa ataupun auto anamnesa.

nah rekan neter semua itu sekelumit tentang pengkajian, jika anda semua menginginkan lengkapnya silahkan download saja materinya

untuk kali ini sekian aja dulu ya...besok kita sambung lagi dengan bahasan yang lebih menarik


READ MORE

Dokumentasi Keperawatan

Share/BookmarkHai..rekan neter semua, agak lama nih saya ga posting, pastinya banyak ditunggu oleh rekan sejawat semua. nah sebelumnya kita udah banyak posting seperti askep anak dan lainnya, pokone banyak dech. oya..kali ini saya mau posting tentang dokumentasi keperawatan nih. Kenapa materi ini yang saya posting duluan??? alasannya banyak sekali dan yang paling utama adalah karena dokumentasi menduduki hal yang paling penting dalam asuhan keperawatan. Kenapa tidak coba....apa yang kita lakukan tentu harus kita dokumentasikan hal ini menyangkut dengan tanggung jawab dan tanggung gugat kita sebagai perawat biar tidak di pandang rendah oleh profesi lain betul??? he...he... agak semangat nih, soale hari ini IGD penuh banget pasien KLL, whuh cape dech...

Lanjut ya...
tentu sebelum kita mendokumentasikan kita harus faham betul dengan konsep dasar dokumentasi keperawatan yaitu Sebagai suatu informasi yang tertulis, dokumentasi keperawatan merupakan media komunikasi yang efektif antar profesi dalam suatu tim pelayanan kesehatan pasien. Disamping itu dokumentasi keperawatan bertujuan untuk perencanaan perawatan pasien sebagai indikator kualitas pelayanan kesehatan, sumber data untuk penelitian bagi pengembangan ilmu keperawatan, sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggunggugatan pelaksanaan asuhan keperawatan serta sebagai sarana pendidikan bagi para mahasiswa.

Dokumentasi dan pelaporan merupakan suatu metode untuk mengkomunikasikan suatu informasi yang berhubungan dengan manajemen pemeliharaan kesehatan. Dalam beberapa hal kesuksesan dari pelaksanaan proses keperawatan tergantung dari keakuratan dan komplitnya pelaporan dan ketepatan dalam penulisan pendokumentasian.

Beberapa jenis catatan digunakan sebagai alat komunikasi untuk menginformasikan keadaan klien. Meskipun setiap perusahaan menggunakan format yang berbeda, seluruh catatan mengandung informasi yang mendasar, yaitu :
  1. Identifikasi klien dan data demografis
  2. Informed Consent untuk tindakan
  3. Riwayat keperawatan
  4. Diagnosa atau masalah keperawatan
  5. Rencana keperawatan (Nursing Care Plan)
  6. Catatan tindakan keperawatan dan evaluasi
  7. Riwayat medis
  8. Diagnosa medis
  9. Pesanan terapi
  10. Catatan perkembangan medis dan kesehatan
  11. Laporan pengkajian fisik
  12. Laporan diagnostik studi
  13. Rangkuman prosedur operasi
  14. Rencana pulang dan rangkuman

Nah itu hal yang paling utama ketika kita mendokumentasikan. oya...kalu di tulis semuanya, tangan saya jadi mandan kesel je....lebih baik download aja ya untuk lengkapnya... silahkan klik link download dibawah



READ MORE

Keperawatan Komunitas (pengkajian askep komunitas)

Share/Bookmark
Selamat malem rekan sejawat semua.....
malam ini saya shift malem nih,...setelah libur beberapa hari, ini pertama masu lagi dan pindah bangsal. Kebetulan nih di bangsal bisa online, makanya saya nyempetin untuk posting lagi.
Kalau sebelumnya saya posting tentang askep maternitas, nah...sekarang saya mau posting  tentang Keperawatan Komunitas. 

Mata udah ngantuk sih..tapi seperti biasa saya tetap semangat, habis mbukak facebook, kasih komentar pada temen-temen terus saya nyemetin buka blog ini. 
Okey seperti biasa saya mau membahas secara garis besar saja ya, nanti kalu ingin jelasnya langsung download aja filenya.

Keperawatan komunitas merupakan hal yang tidak bisa di pisahkan dari ilmu keperawatan, walaupun masih bnayak yang menganggap bahwa komunitas adalah wilayah garapannya ilmu kesehatan masyarakat. Dalam  prosesnya untuk merawat sebuah masyarakat perlu dukungan dari berbagai fihak, karena sudah barang tentu kalau masalah yang ada dalam komunitas itu merupakan tanggungjawab bersama, betul??? Sebelum kita menemukan masalah yang sedang di alami sebuah komunitas masyarakat, kita harus memulainya dengan pengkajian dengan beberapa kriteria tertentu. Pokoknya masalah komunitas harus ditangani secara menyeluruh dan bersama-sama. Bagi mahasiswa memegang peranan yang sangat penting karena data yang didapatkan akan lebih objektif jika dibandingkan dengan sebuah lembaga pemerintah. itu sih pendapat saya...ga tau kalau pendapat orang lain???pasti beda kali ya...

Nah file yang saya posting kali ini, adalah sebuah contoh dengan pengkajian pada keperawatan komunitas , silahkan download pada link di bawah.

READ MORE

Askep Yang Berhubungan :