Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tampak depan Kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

10 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dalam Seminggu

Ada pesta harus dihadiri seminggu lagi, dan Anda merasa gaun kesayangan dipakai ke pesta nanti lebih sempurna...

Keperawatan Medikal Bedah

Bersama kita bisa......

Go Abroad....

Program pasca sarjana UMY yang istimewa muda mendunia...

The Great University

UMY is most popular in yogyakarta....

Showing posts with label Asma. Show all posts
Showing posts with label Asma. Show all posts

Tanda Gejala Penyakit Asma

Penyakit asma ini dikenal dalam masyarakat awam dengan istilah bengek. Bengek ini adalah suara khas penderita asma ketika sedang kambuh atau disebut pula dengan mengi. Kita harus berhati-hati dan waspada bila ada anggota keluarga kita yang menderita penyakit asma ini karena datangnya juga tiba-tiba bila sedang kambuh dan serangan asma ini bisa berulang terjadi.

Pada dasarnya asma ini adalah peradangan kronik saluran nafas, sehingga bukan hanya penyempitan saluran nafasnya saja. Demikian yang diutarakan oleh Dr.Priyadi Wijayarko Sp.P staf dokter mitra spesialis Paru RS Telogorejo Semarang. Peradangan kronik ini akan menyebabkan saluran nafas menjadi hipersensitif. Saluran nafas akan mudah mengkerut jika terkena rangsangan baik itu rangsangan berupa cuaca atau sesuatu yang sensitif.

gejala penyebab penyakit asma

Biasanya peradangan ini menyebabkan dinding saluran nafas menjadi tebal. Dinding yang tebal ini menjadikan diameter saluran nafas mengecil. Selain itu juga akan juga menyebabkan produksi dahak atau lendir bertambah banyak sehingga akan menjadikan saluran nafas kian mengecil.

Gejala Asma bisa kita kenali dengan tanda awalnya adanya keluhan batuk, rasa berat dirasakan di dada, rasa seperti tertekan dan kemudian hal ini akan berlanjut yang menyebabkan seseorang itu akan menjadi sesak nafas. Tanda gejala penyakit asma yang paling ringan adalah batuk dan seringkali terjadi ada waktu malam hari sampai dengan menjelang pagi. Pencetus batuk pada asma oleh karena zat-zat tertentu apakah lewat makanan atau kontak makanan atau pun kontak hidup.

Penyebab penyakit asma bisa dikarenakan faktor keluarga (keturunan). Hal ini bisa kita ketahui tatkala kita anamnese pasien asma kita tanyakan apakah ada adik atau kakak, orangtua, atau kakek neneknya yang punya penyakit yang sama. Namun bisa juga bagi anak yang lahir dengan berat badan rendah, bayi sering batuk pilek menjadi salah satu gejala tanda asma. Bisa juga karena tidak kuat dengan polusi seperti halnya bila sang ayah merokok di rumah. Jadi asma adalah multi faktor, tidak selalu keturunan, tetapi ada hal-hal yang memudahkan terjadinya asma ini. Asma pada anak juga banyak terjadi pula di sekeliling kita.

Pengobatan asma yang dianjurkan adalah dengan tehnik cara pemberian obat secara inhalasi. Hal ini karena dengan pengobatan dengan obat inhalasi ini bekerja langsung di target organ yang sakit tersebut. Pilihan obat inhalasi untuk penderita asma ini jika digunakan dalam jangka waktu lama relatif aman. Karena dosis yang diberikannya pula sangat rendah. Tentunya hal ini pula harus atas anjuran dokter dan tim medis pula.

Pada penyakit apapun jika kita lebih dini mengetahuinya tanda serta gejalanya maka pengobatan akan menjadi lebih mudah. Jika pengobatan tidak kuat maka kambuhnya penyakit asma akan sering terjadi. Sehingga mengenali asma perlu pula kita ketahui bersama.
Blog Keperawatan : http://askep-net.blogspot.com/2013/01/tanda-gejala-penyakit-asma.html

Latihan Renang Ternyata Olahraga yang Sangat Dianjurkan untuk Penderita Asma

Sudah tahukah anda kalau  latihan renang ternyata olahraga yang sangat dianjurkan untuk penderita asma ? Mungkin selama ini asumsi kita bahwa penderita asma  dianjurkan sedikit mungkin melakukan olahraga karena khawatir kekambuhan dan keparahan penyakitnya. Tapi penelitian terbaru menyatakan bahwa latihan renang dianjurkan untuk penderita asma.

Dahulu saya punya teman yang menderita penyakit asma. Kebetulan dia teman satu kamar saya di asrama saat kuliah, jadi saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana menderitanya dia saat penyakit asmanya kambuh. Waktu itu pernah jam 12 malam dia menderita sesak nafas, dia hanya bisa  duduk di kursi , sambil berusaha menyeimbangkan nafasnya. Sangat menderita sekali saat dia menarik nafas dan mengeluarkan nafasnya. Dengan sangat panik, kami kemudian menelepon orangtuanya. Jam 12 siang orang tuanya baru datang, dan dia segera dibawa ke dokter. Dia punya dokter keluarga sendiri, yang katanya dokter lain tidak akan bisa meredakan sakitnya kecuali dokter keluarganya itu. Entahlah, mungkin dia punya sugesti dengan dokternya karena dokter itu yang merawatnya sejak kecil. Selanjutya beberapa kali teman saya itu masih juga kambuh. Pokok asma sudah menjadi teman sehari-harinya. Walaupun demikian teman saya merupakan pejuang sejati, katanya waktu kecil dia pernah divonis meninggal di usia remaja, ternyata dia tetap bisa survive, sampai sekarang bisa menjadi ibu dengan 2 anak kembarnya. Tapi yang saya tahu dia memang tidak begitu berani melakukan olahraga, mungkin takut hal itu akan memicu kekambuhan penyakit.

Penelitian tentang pengaruh latihan renang dan senam asma terhadap Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) dan Kadar Hormon Kortisol pada Penderita Asma, disampaikan oleh Rahmaya Nova Handayani pada Seminar Nasional FKIK Unsoed Maret 2012 kemarin. Kebetulan hari ini saya membuka-buka Proceeding yang saya punya, dan menemukan artikel penelitiannya yang menarik bagi saya.

Penelitiannya merupakan penelitian quasi eksperimen. Subyek penelitian terdiri dari 20 orang  penderita asma yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang diberi latihan renang  20-30 menit dan yang diberi latihan senam  30-45 menit  selama 3 kali seminggu dengan total latihan 12 minggu.

Hasilnya menunjukan bahwa kedua latihan tersebut  terdapat peningkatan nilai FEV1 dan hormon kortisol , tapi yang peningkatannnya lebih tinggi adalah latihan renang.  

Nilai FEV1 menunjukkan jumlah udara yang dikeluarkan secepat-cepatnya pada satu detk pertama sesudah mengambil nafas daam-dalam. Pada penyakit obstruksi (gangguan) pernafasan, volume yang dikeluarkan akan lebih lembat. Sedangkan hormon kortisol berfungsi untuk mengurangi hiperresponsifitas saluran nafas.
Dikatakan bahwa latihan renang lebih banyak membutuhkan energi dibanding latihan lain (lari atau berjalan) karena latihan renang lebih menekankan pada gerakan kaki dan lengan sehingga fungsi paru-paru dan otot pernafasan lebih baik. Latihan fisik yang dilakukan teratur akan menyebabkan peningkatan kapasitas mitokondria pada otot saluran pernafasan, dengan demikian nafas akan lebih mudah dikeluarkan.

Dianjurkan untuk penderita asma untuk selalu melakukan latihan secara rutin dengan memperhatikan frekuensi, intensitas, tipe dan waktu pelaksanaan latihan. Adapun bagi penderita asma yang tidak bisa berenang dapat melakukan latihan senam asma dengan waktu yang lebih lama.

Sumber :
Handayani, RN. Pengaruh Latihan Renang dan Senam Asma terhadap Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) dan Kadar Hormon Kortisol pada Penderita Asma. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed. Purwokerto 31 Maret 2012 ISBN: 978-602-98319-1-6

Ingin baca artikel menarik lainnya lihat di Daftar Isi ARTIKEL GIZI DAN KESEHATAN



ARTIKEL GIZI DAN KESEHATAN : http://artikelgizikesehatan.blogspot.com/2012/04/latihan-renang-ternyata-olahraga-yang.html