Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tampak depan Kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

10 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dalam Seminggu

Ada pesta harus dihadiri seminggu lagi, dan Anda merasa gaun kesayangan dipakai ke pesta nanti lebih sempurna...

Keperawatan Medikal Bedah

Bersama kita bisa......

Go Abroad....

Program pasca sarjana UMY yang istimewa muda mendunia...

The Great University

UMY is most popular in yogyakarta....

Showing posts with label Fisioterapi. Show all posts
Showing posts with label Fisioterapi. Show all posts

Kompetensi Fisioterapi Dengan Stroke

Dari:Jowir
Kumpulan Makalah Ft

Gambaran Umum :

Stroke adalah kematian sel otak yang mendadak atau tiba-tiba oleh karena gangguan sirkulasi darah ke otak. ketika asupan darah keotak lemah, oksigen dan nutrisi yang penting untuk otak tidak dapat disalurkan. Akibatnya tenjadi ketidak normalan fungsi otak. Gangguan aliran darah keotak dapat terjadi oleh karena blokade atau kerusakan dari pembuluh arteri.

Stroke dapat disebabkan oleh trombosis, emboli, perdarahan subarachnoid dan lain-lain yang menimbulkan hemiplegia. Pemberian latihan pada pasien stroke akibat trombosis dan emboli jika tidak ada komplikasi lain dapat dimulai 2­3 hari setelah serangan dan bilamana terjadi perdarahan subarachnoid dimulai setelah 2 minggu. Pada stroke karena trombosis atau emboli pada penderita infark miokard tanpa komplikasi, program latihan dapat dimulai setelah minggu ke tiga, tetapi jika segera menjadi stabil dan tidak didapatkan aritmia, latihan yang gentle dapat dimulai pada hari ke sepuluh. Pada stroke yang berat lebih aman menunggu sampai tercapai complete stroke kemudian baru dimulal program latihan, meskipun hanya gerakan pasif saja yang diberikan. Jika proses penyebabnya dicurigai berasal dari arteri karotis ditunggu 18 s/d 24 jam dan jika penyebabnya dari sistem vertebrobasiler tunggu sampai 72 jam sebelum memastikan tidak ada perburukan lagi.
Ada beberapa bentuk metode atau tipe latihan yang dapat diaplikasikan oleh pasien stroke diantaranya adalah :

1. Conservative/Tradisional :

Metode latihan ini terkesan umum dan latihan-latihannyapun didasarkan penekanan pada pencegahan & perawatan kontraktur dengan mempertahankan luas gerak sendi atau latihan Range Of Motion (ROM exercises). Memperkenalkan mobilisasi dini kepasien dengan cara pengoptimalan sisi yang sehat untuk mengkompensasi sisi yang sakit. Tipe jenis latihannya adalah penguatan dengan menggunakan tahanan. 

2. Propioseptive Neuromuscular Fascilitation (Metode PNF)

Metode latihan ini bertujuan untuk merangsang respon mekanisme neuromuskuler melalui stimulasi proprioseptor. Bertujuan memfasilitasi pola gerakan sehingga mencapai “functional relevant” dengan tujuan memfasilitasi irradiasi impuls untuk tubuh bagian lain yang berhubungan dengan gerakan utama. Menggunakan rangsangan proprioseptif (streetching/peregangan otot, active movement/gerakan sendi dan resisted/tahanan terhadap kontraksi otot sebagai input sensorik yang didesain untuk memfasilitasi kontraksi otot spesifik)Tehnik-tehnik dari PNF dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pemberian tahanan maksimal

2. Traksi & aproksimasi sendi

3. Quick stretch

4. Cutaneous pressure (hold & grip)

5. Gerakan sinergis (untuk memperkuat gerakan yang lemah)

6. Mempergunakan aba-aba yang sederhana (verbal)

7. Pola gerak : spiral - diagonal

3. Movement Therapy/Brunnstorm
Reedukasi otot menggunakan latihan refleks.

Teori :
Kerusakan susunan syaraf pusat/SSP telah menyebabkan evolusi terbalik & regresi kembali ke pola gerak filogenetik yang lebih tua (terjadi sinergi dan refleks primitive). Sinergi & refleks primitive ini dianggap sebagai bagian normal dari proses penyembuhan sebelum terbentuk pola baru.
Kombinasi eksteroseptif & proprioseptif
Tehnik :
  1. Memberikan tahanan pada ekstremitas yang normal, tapping (input sensoris) & tehnik relaksasi
  2. Diberikan sesuai dengan 6 stadium penyembuhan Twitchell :Flasiditas, Spastisitas dan onset sinergi, Peningkatan spastisitas & beberapa control sinergi volunteer, Penurunan spastisitas & peningkatan control sinergi volunteer, Tidak adanya control fungsi motorik dari sinergi, Gerakan sendi individual
  3. Tahapan tehnik latihan : Merangsang gerak sinergis (Associated Reaction Pathological Tonic Neck & Labyrinthine reflex)
Mengontrol gerakan sinergi :
  • Latihan terlepas dari pengaruh pola sinergis (dengan gerakan kombinasi pola sinergis antagonis)
  • Merangsang fungsi tangan & jari tangan secara volunteer, ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan dalam latihan ini diantaranya adalah :
    • Tahap 1-3 : merangsang control volunteer sinergis & memakai gerakan ini untuk aktifitas stabilisasi obyek /àyang bertujuan (ROM bahu, abd volunteer, untuk ADL memegang, menjinjing, dll)
    • Tahap 4-5 : mengontrol flexor & ekstensor sinergi sehingga penderita dapat melakukan aktifitas fungsional
    • Tahap 6 : ketrampilan tangan dengan melatih fungsi tangan
4. Neurodevelopmental Technique/Bobath

Teori :
Pola gerakan patologis tidak boleh digunakan untuk latihan oleh karena penggunaan berulang jalur eferen patologis dapat menyebabkan ekspansi ke jalur normal. Menggunakan konsep hirarki fungsi SSP manusia, dengan komponen yang saling integral : input sensorik & system feedback motorik. Konsep motor relearning mungkin dapat berurutan seperti pada perkembangan normal dan Berlawanan dengan Brunnstorm & PNF.
Prinsip :
  1. Kontrol pola spastisitas dengan menghambat pola abnormal
  2. Fasilitasi pola normal / refleks postural normal (righting & equilibrium reaction)
Tujuan :
  1. Stabilisasi tonus postural
  2. Inhibisi pola abnormal / gerakan abnormal
  3. Fasilitasi refleks otomatis & pola gerakan normal yang lebih selektif & persiapan ketrampilan fungsional
Tehnik :
  1. Reflex Inhibiting Posture/pattern (RIP) : meletakkan anggota gerak dalam posisi pola antispastik
  2. Key Point of Control (KPOC) : menghambat spastisitas & pola gerak abnormal sekaligus memberi fasilitasi pola gerak yang normal 
    • Proximal KPOC (shoulder, hip dan trunk) 
    • Distal KPOC (tangan & kaki) Tidak menganjurkan pemakaian alat bantu jalan, oleh karena latihan NDT menekankan penggunaan & weight bearing pada sisi lumpuh
  3. Push-pull technique : tehnik untuk menimbulkan ekstensi terutama pada lengan di mana fleksi lebih dominan
  4. Placing & holding : mempertahankan posisi dalam RIP position
  5. Tapping : pada otot antagonis dari otot yang spastik

5. Sensory Motor Approach
Fasilitasi/inhibisi pergerakan melalui stimulasi proprioceptor, exteroceptor atau enteroceptor.

Teori :
Deficit motorik adalah hilangnya fungsi yang terjadi dipandang dari sudut pandang yangàselama perkembangan sensorimotorik normal berhubungan dengan input sensorik
Stimulasi kulit untuk fasilitasi stabilisasi & mobilisasi otot :
  1. Stimulasi free nerve ending : Fasilitasi pada kulit di atas otot stabilisator 30 menit sebelum terapi untuk brushing yang tujuannya memfasilitasi gamma motor neuron dengan tujuan untuk stabilitas otot proksimal sendi (biasanya menggunakan electrically powered brush), Aplikasi dengan es (suhu 12-17derajat F) 3-5 menit memfasilitasi C fiber
  2. Fasilitasi mobilizing muscle : Quick stroking / icing pada tangan, kaki &/bibir
  3. Stimulasi otot stabilisator : Electric brushing/repetitive icing dengan tujuan stimulasi stabilisator secondary muscle & inhibisi spastic mobilizing muscle


jurnal fisioterapi : http://jurnal-fisioterapi.blogspot.com/2012/07/kompetensi-fisioterapi-dengan-stroke.html

Penatalaksanaan Fisioterapi pada Cerebral Palsy



GAMBARAN KLINIS CP


Gambaran klinis CP tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan:(2)
  1. Paralisis: Dapat berbentuk hemiplegia, kuadriplegia, diplegia, monoplegia, triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid, spastik atau campuran.
  2. Gerakan involunter: Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.
  3. Ataksia: Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung.
  4. Kejang: Dapat bersifat umum atau fokal.
  5. Gangguan perkembangan mental: Retardalasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral palsyyang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan dikem bangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.
  6. Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas.
  7. Problem emosional terutama pada saat remaja

DIAGNOSIS CP

Untuk menetapkan diagnosis diperlukan beberapa kali pemeriksaan, dengan anamnesis yang cermat dan pengamatan yang cukup, agar dapat menyingkirkan penyakit atau sindrom lain yang mirip dengan CP. Walaupun pada CP kelainan gerak motorik dan postur merupakan cirri yang utama, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa sering juga disertai dengan gangguan bukan motorik, seperti retardasi mental, kejang-kejang, gangguan psikologis dan lainnya.(1)

Pada umumnya diagnosis pada anak di bawah umur 6 bulan adalah sulit. Hal ini disebabkan pada umur di bawah 6 bulan tidak banyak “milestone” perkembangan baru. Padahal dengan diagnosis dini dan penanganan yang dini puka, maka prognosisnya jauh lebih baik. Oleh karena itu untuk memudahkan diagnosis maka Levine, membagi kelainan motorik pada CP menjadi 6 kategori yaitu:
  1. Pola gerak dan postur
  2. Pola gerak oral
  3. Strabismus
  4. Tonus otot
  5. Evolusi reaksi postural dan kelainan lainnya yang mudah dikenal
  6. Reflex tendon, primitive dan plantar.
Kriteria ini dapat secara nyata membedakan antara penderita CP dengan yang bukan. Diagnosis dapat ditegakkan apabila minimal terdapat 4 kelainan pada 6 kategori motorik tersebut dan disertai dengan proses penyakit yang tidak progresif.(1)

PENATALAKSANAAN MEDIS

Perawatan pada anak CP memerlukan pengertian dan kerja sama yang baik dari pihak orang tua/keluarga penderita. Hal ini akan tercapai dengan baik jika diorganisasi terpadu pada satu pusat klinik khusus. Cerebral palsy yang dikelola tenaga tenaga dari pelbagai multidisipliner.(1,2)

1. Obat obatan :
  • Obat anti spastisitas
Biasanya indikasi pembarian obat obatan anti spastisitas pada penderita C.P. karena : Spastisitas penderita sangat hebat yang disertai rasa nyeri sehingga mengganggu program rehabilitasi, keadaan hiperefleksi yang sangat mengganggu fungsi motorik (misalnya: ada klonus kaki yang hebat), kontraksi fleksi pada tungkai yang progresif, dan spasitisitas penderita yang mempersulit perawatan.
  • Obat psikotropik 
  • Antikonvulsan
2. Tindakan ortopedi

Salah satu indikasi dilakukan tindakan ortopedi jika sudah terjadi deformitas akibat proses spasme otot atau telah terjadi kontraktur pada otot dan tendon. Dalam hal ini harus dipertimbangkan secara matang beberapa factor sebelum melakukan tindakan bedah.

3. Fisioterapi
4. Terapi wicara
5. Terapi okupasi
6. Ortotik prostetik

Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya, tidak bisa terjadi pada CP. Tetapi akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan, sedangkan bertambah berat apabila disertai dengan retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI



Prinsip program fisioterapi CP yaitu:(7)
  1. Mengurangi (memblok) tonus, postur, keseimbangan dan gerakan yang tidak normal dengan cara membangkitkan postur yang normal (Reflex Inhibitory Posture/RIP)
  2. Mempermudah munculnya tonus otot, postur, keseimbangan dan gerakan yang normal melalui penanganan yang benar (Reflex Inhibitory Movement/ RIM).
  3. Mendidik kembali fungsi sensomotorik dengan jalan penderita diminta merasakan tonus , postur, keseimbangan dan gerakan yang tidak normal atau dilatih dengan memposisikan tubuh pada posisi yang kita anggap benar berulang-ulang kali (Fascilitation).
  4. Mengevaluasi langsung dari respon pasien untuk melihat seberapa besar perkembangan proses kemandirian anak CP.
Hal-hal yang harus diperhatikan saat melatih anak CP antara lain:(6)
  1. Tidak menimbulkan nyeri atau rasa takut dengan menggunakan tenaga yang berlebihan. Harus diregangkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati.
  2. Tidak menggerakkan sendi kian kemari seperti memompa, hal ini akan mempercepat peregangan yang meningkatkan kekakuan pada otot yang spastik.
  3. Tidak melakukan peregangan jika saat gerakan tiba-tiba menjadi kaku atau tidak terkontrol. Tunggu sampai otot-otot rileks seperti semula.
  4. Tidak meregangkan sendi secara berlebihan.
Tahapan teknik dasar latihan gerak pada anak CP terdiri dari 4 tahapan yaitu sebagai berikut:(7)
  1. Tahap I, merupakan latihan mengontrol kepala dan tangan.
  2. Latihan mengontrol kepala dan tangan sangat penting sebagai tahap awal dari latihan selanjutnya. Mengangkat dan menahan kepala serta badan melalui penumpuan tangan berguna untuk persiapan berguling, merangkak dan duduk.
  3. Tahap II, merupakan latihan mengontrol badan untuk duduk
  4. Pada tahap ini, anak diajarkan untuk mempertahankan badannya tetap tegak sewaktu ia bergerak dari dan hendak bersandar pada tangannya. Posisi duduk akan membuat sang anak mampu melihat kedua tangannya dan mempergunakannya. Tujuan latihan pada tahap ini yaitu agar anak anak dapat beraktivitas ke segala arah pada saat duduk, mempersiapkan diri untuk berdiri dan jongkok dari posisi duduk, dan beraktivitas dari posisi duduk ke merangkak.
  5. Tahap III, merupakan latihan untuk mengontrol tungkai untuk berdiri dan berjalan. Tujuan yang ingin dicapai pada tahap ini yaitu agar anak dapat mempersiapkan tungkainya dari duduk berlutut untuk selanjutnya berdiri. 
  6. Tahap IV, merupakan informasi umum untuk keluarga, yaitu dengan menginformasikan kepada keluarga untuk senantiasa melatih anak dengan teratur dan penuh kasih saying agar anak lebih cepat mandiri. Keluarga atau orang tua diajarkan untuk menggerakkan sendi secara penuh setiap hari sekitar 3 kali per sendi tanpa disertai dengan gerakan paksaan. Hal ini untuk memelihara jarak gerak sendi anak dan untuk mencegah kekakuan.
DAFTAR PUSTAKA
.
1. Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Kurniadi, Adi. 2012. Cerebral Palsy. Makalah tidak diterbitkan. Departemen Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
3. Wahyudi, Nurma. 2008. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Cerebral Palsy Spastic Diplegi Dengan Terapi Latihan Metode Bobath Di YPAC Surakarta. KTI tidak diterbitkan. Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
4. Adnyana, I Made Oka. 1995. Tinjauan Kepustakaan: Cerebral Palsy Ditinjau dari Aspek Neurologis. Jurnal Cermin Dunia Kedokteran No 104.
5. Buranda, Theopilus. dkk. 2008. Anatomi Umum. Makassar: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
6. Pratiwi, Gusti. 2011. Karakteristik Penderita Cerebral Palsy yang mendapatkan pelayanan Fisioterapi di Makassar.Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. 
7. Tim Penyusun. 2002. Modul1 :Tumbuh Kembang Anak Normal Sebagai Tolok Ukur Kemampuan Gerak Anak CP. Pemda Provinsi Sul-Sel Dinas Kesehatan.

sumber :
http://zahstraces.blogspot.com/2012/05/manajemen-fisioterapi-pada-kasus.html

jurnal fisioterapi : http://jurnal-fisioterapi.blogspot.com/2012/07/penatalaksanaan-fisioterapi-pada.html

Fisioterapi pada CP Diplegia Spastik



Deskripsi Problematik Fisioterapi

  • Permasalahan Utama ( impairment )

Adanya abnormalitas tonus postural ( spastisitas ) menyebabkan kontrol gerak yang tidak terkendali sehingga mempengaruhi postur tubuh. Apabila tidak segera ditangani maka akan terjadi permasalahan lain berupa deformitas yaitu kontrakur otot, kekakuan sendi, skoliosis. 
  • Keterbatasan Fungsional ( functional limitation )
Akibat adanya postur tubuh yang jelek dan kontrol gerak yang tidak terkendali maka akan mempengaruhi aktifitas fungsional sehari-hari yaitu makan, memakai baju, mandi, bermain. 
  • Keterbatasan berpartisipasi dalam masyarakat
Dengan terbatasnya aktifitas sehari-hari maka anak penderita CP tersebut akan terbatas aktifitas di luar rumah seperti bergaul dengan anak-anak atau orang-yang tinggal di dekat tempat tinggalnya.


Tekhnologi Intervensi Fisioterapi


Teknologi intervensi fisioterapi yang digunakan untuk menangani permasalahan yang ada pada kondisi CP spastik diplegi meliputi latihan pada mobilitas trunk, stretching pasif dan latihan gerak aktif dengan pendekatan terapi dengan permainan serta latihan berjalan. 

1. ) Mobilisasi trunk.
Latihan mobilitas trunk merupakan latihan yang diberikan baik pasif maupun aktif ke seluruh luas gerak tubuh ( fleksi, ekstensi, side fleksi dan rotasi trunk) dengan tujuan untuk memperbaiki co-contraksi otot-otot trunk dan untuk memperoleh fleksibilitas dari trunk yang diharapkan dapat memperbaiki postur pada kondisi CP diplegi spastik yang cenderung kifosis. Pada akhir gerakan pasif dapat disertai dengan pemberian stretching ( penugluran jaringan ) dan elongasi (pemanjangan trunk ke arah atas).

2. ) Stretching
Streching merupakan suatu bentuk terapi yang di susun untuk mengulur struktur jaringan lunak yang mengalami pemendekan secara patologis dan dengan dosis tertentu dapat menambah range of motion. Passive stretching dilakukan ketika pasien dalam keadaan rileks, menggunakan gaya dari luar, dilakukan secara manual atau dengan bantuan alat untuk menambah panjang jaringan yang memendek (Kisner & Colby, 1996). Diharapkan dengan rileks tersebut dapat mengurangi spastisitas pada ekstrimitas bawah khususnya kedua tungkai.

3. ) Latihan gerak aktif dengan pendekatan terapi dengan permainan
Selain berguna untuk mengembangkan potensi anak, bermain juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak yag bermasalah. Bermainm merupakan media yang baik dan sebagai stimulasi anak dengan gangguan perkembangan. Pada CP bermain dapat melatih ketrampilan motorik halus dan kasarnya. Dalam bermain anak CP diberikan keleluasaan gerak untuk mengikuti permainan.

4. ) Latihan pola jalan ( aktifitas fungsional )
Latihan pola jalan dilakukan dengan tujuan mengajarkan pola jalan yang benar pada anak sehingga anak dapat berjalan dengan pola yang baik dan benar. Pada akhirnya dapat melatih kemandirian anak dalam melakukan aktifitas fungsional.


RENCANA PELAKSANAAN STUDI KASUS

A. Rencana Pengkajian Fisioterapi

Rencana pengkajian fisioterapi (assessment) sangat penting dalam proses fisioterapi karena dengan cara ini fisioterapi mampu mengidentifikasi masalah yang ada. Kemudian hasil dari identifikasi ini akan menjadi dasar untuk menentukan rencana atau program fisioterapi, mengevaluasi perkembangan penderita cerebral palsy dan dengan assessment pula akan diketahui metode yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi penderita cerebral palsy. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan yaitu (1) kesan umum pasien, (2) tonus otot postural, (3) pertumbuhan dan perkembangan anak, (4) kemampuan fungsional anak, (5) masalah primer dan sekunder yang dihadapi anak, (6) deformitas. Langkah-langkah pemeriksaan yang akan dilakukan sebagai berikut :

1. Anamnesis

Anamnesis merupakan suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan cara tanya jawab dengan pasien ( autoanamnesis ) atau dengan orang lain paling dekat dengan pasien ( heteroanamnesis ) tentang keadaan pasien.
Anamnesis terdiri dari atas :
  • Anamnesis umum
    • Anamnesis ini meliputi (1) identitas pasien (nama,jenis kelamin, usia, alamat) (2) riwayat kelahiran (kelahiran normal, caesar atau dengan bantuan alat ), (3) riwayat penyakit sekarang.
  • Keluhan utama
    • Meliputi permasalahan yang saat ini dihadapi oleh anak semisal anak tidak mampu berjalan dengan normal atau berjalan dengan alat bantu, ataupun tidak mampu melakukan aktiftasnya sehari-hari semisal bermain.
  • Riwayat keluarga
    • Meliputi keterangan mengenai adanya anggota keluaraga dengan riwayat cerebral palsy.
2.Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik meliputi :
a. Vital sign
Pemeriksan vital sign meliputi :
  • Tekanan darah
    • Tekanan darah diukur dengan menggunakan tensimeter. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum, selam dan sesudah dilakukan intervenís fisioterapi. Jira pasien anak-anak maka menggunakan manset anak-anak, jira pasien dewasa maka menggunakan manset dewasa.
  • Nadi
    • Pemeriksaan nadi diukur pada arteri radialis dengan menggunakan tiga jari secara palpasi. Pemeriksan nadi juga dapat dilakukan pada arteria femoralis, arteria dorslis pedis, arteria temporal dan lain-lain.
  • Suhu tubuh
    • Pemeriksaan suhu tubuh dilakukan secara manual unutk mengetahui apakah pasien sedang demam atau tidak. Hal ini unutk mengetahui apakah terapi bisa dilakukan atau tidak.
  • Tinggi badan
    • Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan pita ukur.
  • Berat badan
    • Pengukuran berat badan dilakukan dengan timbangan berat badan.
b. Inspeksi
Inspeksi dilakukan dengan tujuan mengetahui keadaan pasien secara umum.. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara melihat dan mengamati pasien. Inspeksi terdiri atas 
  • Inspeksi statis
    • pasien tidak melekukan aktifitas dan terapis mengamati pasien ketika duduk, berbaring ditempat tidur dan berdiri. Hal hal yang menjadi perhatian adalah ekspresi wajah, apakah ada oedem pada anggota gerak dan apakah pasien cenderung muncul pada pola snergis, 
  • Inspeksi dinamis
    • pada pemeriksan ini yang perlu diperhatikan adalah gerak gerik yang mampu dilakukan pasien terutama perubahan posisi dan bagaiman pasien melakukannya.
c. Palpasi
Pemeriksaan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kualitas tonus otot, kekuatan otot, ada tidaknya spasme, kontraktur otot, dan atropy otot.

d. Auskultasi
Auskultasi bertujuan untuk mengetahui adanya kelainan pada paru atau jantung. Pemeriksaan ini dengan menggunakan stetoskop.

3. Pemeriksaan gerak dasar

a. Gerak Aktif
Merupakan pemeriksaan gerak dimana pasien diminta melakukan gerakan secara mandiri atau tanpa bantuan. Dari pemeriksaaan ini akan diketahui : kemampuan penderita untuk melakukan gerak aktif, kordinasi geraknya, ada tidaknya nyeri gerak, LGS aktif.

b. Gerak Pasif
Merupakan pemeriksaan gerak dimana gerakan pasien dibantu oleh terapis. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui : LGS pasif, ada tidaknya spastisitas, ada tidaknya kontraktur otot.

4. Pemeriksaan spesifik

Pemeriksan spesifik meliputi pemeriksaaan ligkup gerak sendi ( LGS), pemeriksaan tonus otot untuk mengetahui tingkat spastisitas menggunakan skala asworth, pemeriksaan reaksi otomatis, pemeriksaan reflek patologis, pemeriksaan deformitas, pemeriksaan intrapersonal dan interpersonal, dan pemeriksaan aktifitas fungsional.

a. ) Pemeriksaan LGS
Pemeriksaaan LGS dilakukan pada sendi bahu, siku, pergelangan tangan, panggul lutut, pergelangan kaki. Alat ukur yang digunakan goniometer.

b. ) Pemeriksaan tonus otot
Pemeriksaan tous otot dengan menggunakan skala asworth, dimana peningkatan tonus otot dapat dinilai sebagai berikut :
Nilai Keterangan

0 Tidak ada peningkatan tonus otot
1 Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai denagan terasanya tahanan minimal ( catch and release ) pada akhirt ROM pada waktu sendi digerakkan fleksi atau ekstensi.
2 Ada penigkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan adanya pemberhentian gerakan ( catch ) dan diikuti dengan adanya tahanan minimal sepanjang sisa ROM, tetapi secara umum sendi tetap mudah digerakkan.
3 Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjang sebagian besar ROM, tetapi sendi masih mudah digerakkan.
4 Peningkatan tonus otot sangat nyata, gerak pasif sulit dilakukan.
5 Sendi atau ekstrimitas kaku ( rigid ) pada geraka fleksi atau ekstensi. 

Sumber : Bobath Center of London

c. ) Pemeriksaan reaksi otomatis
Pada pemeriksaan ini akan diperoleh penurunan atau hilangnya reaksi-reaksi otomatis antara lain: 
  1. Reaksi tegak (Righting reaction) dengan cara anak diposisikan duduk kemudian trunk digerakkan ke belakang, ke samping dan ke depan maka anak akan mempertahankan posisi kepala tetap tegak. 
  2. Reaksi keseimbangan (Equilibrium Reaction) dilakukan pada saat duduk, berdiri dan berjalan. Reaksi keseimbangan duduk dengan cara: anak diposisikan duduk bersila maupun W sit kemudian secara perlahan-lahan dilepas, reaksi ini baik bila penderita mampu mempertahankan keseimbangan. Reaksi keseimbangan berdiri dengan cara: anak diposisikan berdiri di atas lantai, terapis berada di belakang anak, kemudian terapis melihat ada tidaknya reaksi pada kedua kaki untuk berdiri. Reaksi keseimbangan berjalan dengan cara: anak diposisikan berdiri di atas lantai, terapis berada di belakang anak, kemudian terapis menginstruksikan anak untuk berjalan, terapis mengamati ada atau tidaknya reaksi pada kedua tungkai untuk melangkah.
  3. Reaksi ekstensi protektif (Protective Reaction) dengan cara anak diposisikan duduk kemudian di dorong ke salah satu sisi, dilihat apakah lengan bereaksi mempertahankan badan dengan ekstensi lengan.
d. ) Pemeriksaan reflek patologis
Pemeriksaan disesuaikan dengan usia anak. Secara fisiologis beberapa reflek yang terdapat pada bayi seharusnya tidak dijumpai lagi pada anak yang sudah besar. Namun bila reflek-reflek ini masih ada, hal ini menunjukkan adanya kemunduran fungsi susunan saraf. Teknik untuk menimbulkan reflek dengan memposisikan reflek yang akan diperiksa, yaitu: 
  1. Babynski, cara anak diposisikan tidur terlentang, gores pada bagian lateral telapak kaki, positif jika timbul gerakan ekstensi jari-jari diikuti abduksi jari-jari kaki, 
  2. Morro reflex, dengan cara anak diposisikam tidur terlentang dan diberi tekanan pada kepalanya secara mendadak. Reflek ini akan hilang pada usia anak 4 bulan, 
  3. Grasp reflek, dengan cara permukaan palmar tangan diberi stimulasi, reaksi positif tangan akan menggenggam, 
  4. Asimetrical tonic neck reflex, dengan cara posisikan anak terlentang, kepala mid position, ekstensi lengan dan tungkai kemudian diberikan stimulasi dengan memutar kepala ke samping. Reaksi ini dikatakan positif bila penderita mengekstensikan lengan dan tungkai homolateral serta fleksi lengan dan tungkai heterolateral, 
  5. Simetrical tonic neck reflex, dengan cara anak diposisikan terlentang kepala mid position, ekstensi lengan dan tungkai kemudian diberikan stimulasi dengan memfleksikan kepala, reaksi positif bila penderita memfleksikan lengan dan mengekstensikan tungkainya.
e. ) Pemeriksaan Deformitas
Pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya permasalahan baru, semisal semakin usia anak penderita CP bertambah maka spastisitas bisas emakin menigkat, sehingga akan berakibat timbulnya deformitas seperti dislokasi sendi panggul dan kontraktur otot-otot ekstrimitas bawah. Deformitas lainnya yang timbul yaitu apabila penderita CP tidak ditangani secara maksimal maka bisa terjadi skoliosis akibat muskuloskeletal yang tidak bisa bergerak seimbang akibat perubahan postur.

f. ) Pemeriksaan Intrapersonal dan Interpersonal
Aspek yang dinilai adalah sejauh mana pasien dapat bekerjasama dengan terapis pada saat pelaksanaan terapi. Menolak atau tidaknya anak saat dilakukan terapi, semisal anak menangis atau senang. 

g. ) Pemeriksaan Aktifitas Fungsional
Pemeriksaan aktifitas fungsional disesuaikan dengan kemampuan anak dan dilakukan untuk menilai seberapa besar tingkat kemandirian anak, apakah anak dapat melakukan aktifitas sehari-hari nya secara mandiri, dibantu sebagian atau sepenuhnya. Untuk melakukan pemeriksaan ini dapat digunakan Gross Motor Function Measurement (GMFM).

GMFM adalah suatu jenis pengukuran klinis untuk mengevaluasi perubahan fungsi gross motor pada penderita CP. Terdiri dari 88 item pemeriksaan, aktifitas pada posisi berbaring dan berguling (17 item), duduk (20 item), berlari dan melompat (12 item).
Penilaian GMFM terdiri dari 4 skor yaitu 0, 1, 2 dan 3 yang masing-masing mepunyai arti yang sama meskipun deskripsinya berbeda tergantung item kemampuan yang dinilai. Keterangan nilai GMFM, sebagai berikut: 

0: tidak memiliki inisiatif; 
1: ada inisiatif; 
2: sebagian dilengkapi; 
3: dilengkapi; 
NT: Not Tested (tidak di tes).

B. Problematik fisioterapi

Permasalahan pada CP yaitu adanya gangguan tonus postural tubuh akibat adanya spastisitas sehingga control gerak terganggu dan juga mengakibatkan postur tubuh yang salah. Dari permasalahan yang telah disebutkan pada akhirnya akan mengganggu aktifitas fungsional sehari-hari anak penderita CP.

C. Rencana penatalaksanaan Fisioterapi

1 .) Tujuan pelaksanaan terapi latihan 
  • Untuk menurunkan abnormalitas tonus ( spastisitas ) terutama pada kedua tungkai bawah.
  • Mencegah terjadinya kontraktur sehingga mencegah deformitas.
  • Memperbaiki kemampuan aktifitas fungsional melalui peningkatan pada keseimbangan dan memperbaiki postur tubuh sehingga diharapkan bertambahnya tingkat kemandirian anak dengan kasus cerebral palsy dalam melakukan aktifitas sehari-harinya semisak bermain.
2. ) Rencana pelaksanaan fisioterapi
  • Latihan mobilisasi trunk
    • Tujuan dari latihan mobilitas trunk ini adalah untuk memperbaiki postur yaitu dengan cara mendudukkan pasiel long sittig dan kedua tungkai membuka lebar ( abduksi tanpa eksternal rotasi ). Fisioterapis dibelakang pasien, tangan menempel bahu kemudian diberikan pressure tapping pada segmen lumbal, thorak atas dan bawah.
  • Streching secara pasif
    • Streching atau penguluran jaringan lunak ini merupakan cara yang digunakan untuk menurunkan spastisitas sehingga bias merileksasikan kerja otot-otot yang berlebihan ( over use ). Pada kondisi CP diplegi spastis biasanya dilakukan stretching pada group otot 
      • hamstring 
      • adductor lutut 
      • abductor lutut 
      • otot perut 
      • illiopsoas dan 
      • pelvic tilting.
  • Latihan gerak aktif dengan menggunakan permainan
    • Latihan ini diberikan dengan melibatkan anak secara aktif. Pada pendekatan ini anak akan diberikan bentuk-bentuk latihan aktifitas fungsional yang akan dilakukan bersamaan dengan bermain untuk tujuan meningkatkan aktivitas fungsional, seperti latihan berdiri dan berjalan. 
  • Latihan aktifitas fugsional dengan mengajarkan pola jalan yang benar.
    • Anak akan diajari berjalan dengan pola yang benar, karena pada umumnya anak CP akan berjalan dengan pola salah akibat dipengaruhi adanya spastisitas. Seperti yang telah disebutkan bahwa spastisitas akan mengganggu kenormalan postur tubuh dan control gerak. Padahal pada pola jalan yang benar dibutuhkan postur tubuh yang baik dan control gerak yang baik pula.
D. Rencana Evaluasi Hasil Terapi

Evaluasi dilakukan untuk mngetahui tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan terapi yang diberikan. Evaluasi dilakukan sesaat setelah terapi dan pada akhir pelaksanaan program terapi. Beberapa pengukuran yang dilakukan meliputi : 
1.) evaluasi spastisitas dengan menggunakan skala asworth, 
2 ) evalusi gross motor, keseimbangan dan kemampuan berjalan ( aktifitas fungsional ) dengan menggunakan GMFM.

Sumber : http://ortotik-prostetik.blogspot.com/2008/12/penatalaksanaan-terapi-latihan-pada.html

jurnal fisioterapi : http://jurnal-fisioterapi.blogspot.com/2012/07/fisioterapi-pada-cp-diplegia-spastik.html

Fisioterapi pada frozen shoulder akibat hemiplegia

PENDAHULUAN

Ditengah masyarakat sering dijumpai pasien dengan kelumpuhan separuh badan yang dapat mengakibatkan terganggunya aktifitas bahu, hal ini membuat penderita semakin sulit berbuat sesuatu dalam keluarganya, dan pada umumnya hidup dengan bantuan orang lain, sehingga terkadang timbul rasa benci pada diri sendiri dan rasa rendah diri di dalam keluarga akibatketergantungan hidup dengan orang lain.


Pada dasarnya gangguan keterbatasan sendi bahu ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, salah satu di antaranya adalah akibat kelumpuhan separuh badan. Kondisi frozen shoulder akibat kelumpuhan separuh badan ini selain membutuhkan obat-obatan, juga tidak kalah pentingnya adalah pengobatan fisioterapi terutama dengan menggunakan modalitas exercise therapy, sebab sampai saat ini tidak ada obat yang dapat mengatasi gangguan gerak dan kekakuan sendi kecuali dengan exercise therapy yang tepat.

ANATOMI DAN FISIOLOGI TERAPAN

1) Shoulder Joint

Gerakan-gerakan yang terjadi di gelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi yang saling berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi akromioklavikular, sendi sternoklavikular, permukaan pergeseran skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan gerakan di dalam sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain di gelang bahu dan sebaliknya.Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, menggaruk kepala, mengambil dompet dan sebagainya atas kerja sama yang harmonis dan simultan dengan sendi-sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya. Beberapa karakteristik daripada sendi bahu, yaitu:
  1. Perbandingan antara permukaan mangkok sendinya dengan kepala sendinya tidak sebanding.
  2. Kapsul sendinya relatif lemah.
  3. Otot-otot pembungkus sendinya relatif lemah, seperti otot supraspinatus, infrapinatus, teresminor dan subscapularis.
  4. Gerakannya paling luas.
  5. Stabilitas sendinya relatif kurang stabil.

Dengan melihat keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah mengalami gangguanfungsi dibandingkan dengan sendi lainnya

2) Kapsul Sendi

Kapsul sendi terdiri atas 2 lapisan (Haagenars),

(a) Kapsul Sinovial (lapisan bagian dalam) dengan karakteristik mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai transformator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yang ringan saja, maka yang pertama kali mengalami gangguan fungsi adalah kapsul sinovial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan, misalnya pada artrosis sendi.

(b) Kapsul FibrosaKarakteristiknya berupa jaringan fibrous keras dan memiliki saraf reseptor dan pembuluhdarah. Fungsinya memelihara posisi dan stabititas sendi, memelihara regenerasi kapsul sendi.Kita dapat merasakan posisi sendi dan merasakan nyeri bila rangsangan tersebut sudahsampai di kapsul fibrosa.

3) Kartilago

Kartilago atau ujung tulang rawan sendi berfungsi sebagai bantalan sendi, sehingga tidak nyeri sewaktu penderita berjalan. Namun demikian pada gerakan tertentu sendi dapat nyeriakibat gangguan yang dikenal dengan degenerasi kartilago (Weiss,1979)

FROZEN SHOULDER

Frozen shoulder adalah suatu gangguan bahu yang sedikit atau sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memperlihatkan kelainan pada foto Rontgen, tetapi menunjukkan adanya pembatasan gerak.

Frozen shoulder dapat diidentikkan dengan capsulitis adhesif dan periarthritis yang ditandai dengan keterbatasan gerak baik secara pasif maupun aktif pada semua pola gerak. Pada penderita kelumpuhan separuh badan (hemiplegia), otot-otot sekitar sendi bahunya mengalami kelumpuhan. Posisi menggantung lengan disertai hilangnya kekuatan otot dan pengikat sendi (ligamen) sebagai penyangga mengakibatkan keluarnya kepala sendi dari mangkoknya yang disebut subluksasi sendi bahu sehingga mengakibatkan tidak sempurnanya scapulo humeral rhythm. Bila lengan digerakkan ke atas secara pasif, gerakan berputar tulang belikat dan terangkatnya tulang akromion yang dibutuhkan tidak terjadi, sehingga tonjolan tulang humerus membentur tulang akromion dan penderita merasa sakit. Stabilisasi pasif sendi (ligament) coracohumrale yang berfungsi dalam mekanisme pengerem terhadap gerakan berlebihan sendi bahu sering terganggu akibat hilangnya mekanisme perlindungan otot-otot bahu; akibatnya, fungsinya sebagai pengerem hilang, sehingga pada keadaan tersebut otot-otot sekitar sendi bahu (rotator cuff) akan sangat mudah mengalami cedera atau terjadinya penguluran yang berlebihan yang dikenal dengan over stretch. 

Dengan berbagai faktor di atas, penderita cenderung takut bila lengannya digerakkan ke atas,dan mempertahankan lengan nya dalam posisi mendekat di badan (adduksi). Bila hal ini terjadi dan berlangsung lama, akan mengakibatkan perlengketan kapsul dan mengkerutnya kapsul sendi sehingga gerakan sendi tersebut akan mengalami keterbatasan dan bertambahnyeri.

Gejala
  1. Adanya nyeri sekitar bahu.
  2. Keterbatasan gerak sendi bahu, misalnya pasien tidak dapat mengangkat lengannya, tidak dapat menyisir, tidak dapat mengambil dompet.
  3. Otot-otot daerah sendi bahu nampak mengecil.

Fase-fase Frozen Shoulder

Pengetahuan mengenai fase-fase ini sangat penting artinya terutama dalam pelaksanaan terapi fisioterapi.

Fase I
Dari 24 jam sampai dengan minggu I setelah trauma dengan gejala-gejala: nyeri yang dominan, gerakan sendi terbatas ke segala arah karena sakit, dan kadang-kadang disertai bengkak.

Fase II
Dari minggu II sampai dengan IV setelah trauma, dengan gejala-gejala yang dominan : jarak gerak sendi (ROM) terbatas, kaku terutama pada abduksi dan exorotasi, nyeri tajam pada akhir ROM dan gangguan koordinasi dan aktivitas lengan/bahu.

Fase III
Setelah minggu IV, dengan gejala-gejala dominan : bahu kaku dan terkunci pada ROM tertentu serta timbulnya subtle sign , gerakan sendi bahu sangat terbatas, membesarnya otot-otot daerah gelang bahu dan sedikit rasa nyeri.

PEMERIKSAAN FISIOTERAPI

Pemeriksaan fisioterapi pada kondisi frozen shoulder akibat kelumpuhan separuh badan, sebagai berikut:
a) Anamnesis Umum : Identitas penderita
b) Anamnesis khusus:
  1. Keluhan utama penderita
  2. Lokasi keluhan utama
  3. Sifat keluhan utama
  4. Lamanya keluhan
  5. Faktor-faktor yang memperberat keluhan.

c) Inspeksi : Dilakukan dalam posisi statis dan dinamis penderita.
d) Tes Orientasi : Untuk melihat kemampuan aktivitas lengan.
e) Pemeriksaan Fungsi Dasar : Gerakan aktif, pasif dan tes isometrik melawan tahanan sendi bahu.
f) Pemeriksaan Spesifik:
  1. Tes intra artikular (Joint Play Movement) sendi bahu.
  2. Tes kekuatan otot.
  3. Tes koordinasi gerakan.
  4. Tes sirkumferentia otot (lingkar otot) daerah bahu.


TINDAKAN FISIOTERAPI

Tindakan fisioterapi pada kasus frozen shoulder akibat kelumpuhan separuh badan didasarkan atas problematik yang terjadi pada pasien. Adapun masalah yang sering mengganggu pasien seperti ini adalah : rasa nyeri gerak, terbatasnya ROM sendi bahu, kelemahan otot-otot daerah bahu, tidak mampu melakukan gerakan-gerakan fungsional, yaitu: menyisir rambut, mengambil sesuatu yang tinggi, mengambil dompet.

Tujuan fisioterapi :
  1. Mengatasi rasa nyeri pada bahu.
  2. Menambah gerak sendi bahu
  3. Meningkatkan kekuatan otot-otot bahu.4.Mengembalikan aktifitas fungsional bahu.

Pelaksanaan Fisioterapi :

1) Elektro Terapi
Elektro terapi yang digunakan pada kondisi ini adalah Continuous Electro Magnetic 27 MHz (CEM). Merupakan arus AC dengan frekuensi terapi 27 MHz yang memproduksi energi elektromagnetik dengan panjang gelombang 11,6 meter, digunakan untuk menimbulkan berbagai efek terapeutik melalui suatu proses tertentu dalam jaringan tubuh. Arus CEM ini menghasilkan energi internal kinetika didalam jaringan tubuh sehingga timbul panas; energi ini akan menimbulkan pengaruh biofisika tubuh misalnya pada thermosensor lokal maupunsentral (kulit dan hipotalamus) dan juga terhadap struktur persendian. Tujuan yang diharapkan dan arus CEM ini adalah menurunkan aktifitas noxe sehingga nyeri berkurang, meningkatkan elastisitas aringan dan sebagai pendahuluan sebelum exercises.

2) Terapi Manipulasi
Terapi manipulasi yang diberikan adalah gerakan roll dan slide pada gerakan-gerakan sendi bahu yang mengalami keterbatasan.Tujuan metode ini adalah membebaskan perlengketan pada permukaan sendi, sehingga jarak gerak sendi akan bertambah.Dasar teknik ini adalah memperhatikan bentuk kedua permukaan sendi dan mengikuti aturan Hukum Konkaf dan Konveks suatu persendian.

3) Exercises Therapy
Exercises therapy yang diberikan pada kondisi tersebut adalah latihan Resistance Exercises dan Metode Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) yang bertujuan meningkatkankekuatan otot daerah bahu baik manual maupun dengan menggunakan beban. Selain itu jugadapat diberikan latihan dengan teknik Hold Relax yang bertujuan untuk mengulur otot -ototyang memendek pada daerah bahu. Latihan tersebut sebaiknya dilaksanakan setelah penderita mendapatkan modalitas elektroterapi.

4) Latihan aktivitas sehari-hari
Bentuk aktivitas yang bermanfaat bagi penderita frozen shoulder adalah menyisir rambut,mengambil sesuatu yang tinggi, mengambil dompet, memutar lengan, dan mengangkat bebanyang kecil-kecil.

KEPUSTAKAAN
1. Djohan Aras. Penatalaksanaan fisioterapi pada frozen shoulder, Akfis Ujungpandang.1994.
2. de Wolf AN, Mens JMA. Pemeriksaan alat penggerak tubuh, diagnostik fisis umum, cet11, Bohn Statleu Van Loghum Houten/Zaventem. 1994.
3. Kisner C. Lynn AC. Therapeutic exercises foundation and techniques, ed. 11.Philadelphia,USA: F.A. Davis Co. 1990.
4. Djohan Aras. Pelatihan Elektro Terapi. Makalah Akfis. Ujungpandang. 1993.
5. Priguna Sidharta. Sakit neuromuskuloskeletal dal praktek umum, Pustaka Universitas UI,Jakarta. 1983.
6. Soeharyono. Sinkronisasi gerak persendian daerah gelang bahu pada gerak abduksilengan. Maj Fisioterapi 1994; 2(23).
7. Purnomo. Fisioterapi pada kapsulitis adhesive, TITAFI ke VI, Jakarta. 1988.7. Cailliet R. Soft tissue pain and disability. Philadelphia, USA: F.A. Davis Co. 1977.

jurnal fisioterapi : http://jurnal-fisioterapi.blogspot.com/2012/07/fisioterapi-pada-frozen-shoulder-akibat.html

PERAN FISIOTERAPI PADA STROKE


PERAN SERTA FISIOTERAPI PADA STROKE
Dari Jowir (fisioterapis anda)



Rehabilitasi stroke adalah program pemulihan pada kondisi stroke yang bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke, sehinga mereka mampu mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Program rehabilitasi ini bisa dibilang merupakan program yang tidaklah mudah, karena setelah stroke terkadang menyisakan kelumpuhan terutama pada sisi yang terkena, timbul nyeri, subluksasi pada bahu, pola jalan yang salah dan masih banyak kondisi yang perlu dievaluasi oleh fisioterapis.

Fisioterapis dalam memulai rehabilitasi stroke ini harus disegerakan atau dalm istilahnya mendesak dimulai dari stadium akut. Fisioterapis harus mengevaluasi terlebih dahulu tentang apa yang tidak mampu pasien lakukan dan hasil akhir yang akan dicapai dari rehabilitasi stroke ini. Contoh ketidakmampuan yang dimiliki oleh pasien stroke adalah : kelemahan dan penurunan daya tahan otot, penurunan range of motion /luas gerak sendi, gangguan sensasi pada angota badan dan masalah pada pola jalannya. rehabilitasi stroke harus mengacu pada kondisi yang dialami pasien saat itu sehingga rencana untuk rehabilitasi ini lebih terarah dan efisien.
Pada rehabilitasi stroke pasien akan belajar menggunakan anggota tubuh yang terkena stroke yang seringkali anggota tubuh ini jarang digunakan atau tidak digunakan sama sekali oleh pasien, sedangkan fisioterapis mengevaluasi apakah anggota tubuh yang terkena stroke tersebut fungsinya sama dengan kondisi sebelum stroke. Jika tidak maka fisioterapis akan mengajarkan bagaimana mengoptimalkan angota tubuh sisi yang terkena.

Fisioterapis menggunakan program rehabilitasi ini untuk memastikan bahwa pasien benar-benar memakai anggota tubuh yang terkena stroke. Fisioterapis harus membuat latihan yang bertujuan mengoptimalkan anggota tubuh yang terkena tersebut, dengan cara menciptakan suatu aktivitas yang sederhana/mudah dipahami pasien dan mengacu pada kekurangan apa yang harus ditambahkan pada pasien. Terkadang perlu juga menciptakan suatu aktivitas dimana pasien tidak mengetahui bahwa sebenarnya latihan tersebut ditujukan untuk anggota tubuh yang lemah.
Jika pasien kesulitan dalam melakukan gerakan aktif seuai dengan luas gerak sendinya maka fisioterapis dapat membantu memfasilitasi gerakan aktif tersebut. Karena dengan ketidakmampuan yang dimiliki oleh angota tubuh sisi yang terkena dalam melakukan fungsinya, kebanyakan pasien selalu menggunakan sisi yang sehat untuk melakukan aktivitas aktif. Dalam memberikan latihan seorang fisioterapis tidak saja terfokus pada sisi yang sakit saja tetapi sisi yang sehat juga harus dioptimalkan fungsinya, karena sisi yang sehat sangat menopang untuk program rehabilitasi.
Penelitian terbaru menunjukkan fisioterapi dapat membantu meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke pada program rehabilitasi jika pasien melanjutkan program latihan tersebut secara teratur dirumah. Pasien akan belajar pola jalan yang benar, meningkatkan kekuatan ototnya, selain itu di program rehabilitasi ini mereka akan mendapatkan parogram latihan keseimbangan dan bagaimana cara memperbaiki postur ubuhnya dan latihan yang bagaimanakah yang dapat menghindarkan dari terjatuh.

Ada bermacam-macam metode yang bisa ditawarkan fisioterapi untuk kasus ini, dan semua metode tersebut bertujuan mengembalikan kapasitas fisik dan fungsional anggota tubuh yang terkena stroke. Elektrikal stimulasi, hidroterapi dan beberapa metode yang lain bisa ditawarkan fisioterapis. Untuk itu rehabilitasi stroke tidak lengkap bila tidak ada campur tangan dari fisioterapi.


FISIOTERAPI All In One : http://feedproxy.google.com/~r/FisioterapiAllInOne/~3/TOStLNHjj38/peran-fisioterapi-pada-stroke.html

Fisioterapi Olahraga dengan Sport Massage

A.  Sejarah Perkembangan Sports Massage 

Sport Massage sampai saat ini masih dipakai dibelahan dunia khususnya dikalangan olahragawan dan dunia kesehatan. Massage sendiri merupakan salah satu bentuk manipulasi / teknik melulut atau memijat sederhana yang pertama-tama ditemukan manusia untuk meringankan rasa sakit dan menghasilkan efek lebih baik / kesembuhan dengan cara mengelus-elus/ mengusap perlahan dan halus secara spontan pada sekitar bagian yang sakit.


Data pasti siapa penemu sport massage pertama kali tidak diketahui, berkembang dibanyak negara seperti Cina, India, Yunani, Mesir dan banyak negara lain sehingga berkembang sampai menjadi kebudayaan yang tinggi. Dalam perkembangannya tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemeliharaan tubuh saja tetapi juga sebagai terapi pengobatan . 

Pertamakali sport massage diperkenalkan dan diaplikasikan untuk para olahragawan adalah negara Yunani dengan maksud untuk menjaga tingkat kebugaran para olahragawan. Di Cina sekitar tahun 3000 SM khususnya dunia kedokteran tradisional, sport massage bertujuan untuk mengaktifkan sirkulasi darah dan hormonal, sebagai alat penenang (sedative), perangsang persyarafan dan sebagai sarana pengobatan bermacam penyakit. Di Mesir kuno masih tercatat didinding bahwa massage merupakan metode pengobatan penyakit atau luka akibat kecelakaan atau peperangan (tercatat pada dokumen raja Fir’aun di relief, papyrus dan pada dinding gambar). Herodicos seorang dokter dan pesenam Yunani menceritakan tentang pengaruh senam pengobatan dan latihan fisik serta massage dengan tujuan menyehatkan jiwa dan raga. Hipocrates seorang dokter dalam kedokteran modern mengenal dan mempelajari sport massage pada Herodicos dan menulis tentang pengaruh sport massage pada system fisiologis tubuh khususnya pada pasien luksasi / keseleo, fraktur / patah tulang dan pasien lain serta sport massage akan membuat system persendian akan menjadi kuat dan kemudahan untuk memobilisasi / menggerakkan persendian yang kaku. 

Para dokter Yunani menggunakan sport massage untuk mempersiapkan fisik olahragawan sebelum bertanding dan untuk melawan tingkat kelelahan setelah latihan fisik yang berat. Para Aliptes / ahli massage olahraga biasa menggunakan minyak dan powder / tepung atau talk untuk memanipulasi / melulut atau memijat otot-otot olahragawan sedangkan olahragawan sendiri juga dibekali dengan ketrampilan sport massage mandiri / Automassage. 

B.  Pengertian Sport Massage 

Sport Massage merupakan teknik memijat / melulut dengan tangan (manipulasi) pada bagian tubuh yang lunak dengan prosedur manual ataupun mekanik yang dilaksanakan secara metodik dan ritmis dengan tujuan untuk menghasilkan efek-efek fisiologis , profilaktik dan terapeutik / pengobatan pada tubuh. 

Manipulasi ini dilakukan secara sistematis dan berurutan sesuai dengan anatomi tubuh manusia yaitu dari permukaan otot kearah dalam bagian tubuh yang lunak /mucous dan jaringan dibawah kulit (konjunktiva) dan lapisan lemak , perototan , pembuluh darah , jaringan persyarafan periferis / syaraf tepi dan jaringan lain serta organ tubuh bagian dalam. 

Ada dua macam prosedur sport massage , secara manual dan mekanik. Prosedur sport massage manual merupakan manipulasi sport massage yang dikenal dengan bermacam-macam gerakan tangan pada permukaan tubuh dengan tekanan gerakan kearah dalam yaitu menekan , memeras, pukulan, goncangan , getaran dan manipulasi lain pada jaringan dan pada segmen . Prosedur manual ini merupakan prosedur yang sangat tua , tersebar dan paling banyak digunakan karena dengan gerakan tangan manusia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan struktur anatomi tubuh dan gerakan tangan ini akan lebih sempurna dibandingkan dengan gerakan alat mesin. 

Prosedur sport massage mekanik , ini dilakukan gerakan sport massage dengan bantuan gerakan mesin pemijat . Bagaimanapun bagusnya alat massage / mesin pemijat tersebut tingkat adaptasi dengan struktur tubuh manusia akan tidak sama dengan gerakan tangan secara manual. 

Prosedur Terapi Manual Sport Massage 

A.  Sistematika Manipulasi Pokok (Teknik sport massage yang harus dilakukan) 

Manipulasi pokok meliputi : 

1. EFFLEURAGE (pembuka) 


2. PETRISAGE


3. FRICTION 


4. TAPOTAMENT 


5. VIBRATION 
6. EFFLEURAGE (penutup) 

Manipulasi tambahan meliputi : 
  • SAPUAN 
  • CABIKAN 
  • SHIATSU 
  • TARIKAN 
  • REGANGAN 
Peruntukan Terapi Manual Sport Massage 

A.  Sport Massage untuk Jaringan dan Organ

Sport massage ini sangat bermanfaat untuk proses pertumbuhan dan perkembangan serta rehabilitasi jaringan dan organisme tubuh. 
Pada jaringan meliputi : Kulit, Konjunktiva ,Otot, Tendon, Articulatio /sendi, Vaskuler, Syaraf.
Pada organ meliputi : Kepala, Leher, Dada / Thorax, Perut / abdominalis.

B.  Sport massage untuk pertandingan dan prestasi 

Sport massage untuk pertandingan dan prestasi ini mencakup : 
1. Sport massage pra competition 
Sport massage ini diberikan sebelum atlet melakukan pertandingan sebagai bentuk warming-up pasif 

2. Sport massage during competition 
Sport massage ini diberikan selama atlet melakukan serangkaian Pertandingan atau saat istirahat pertandingan 

3. Sport massage post competition 
Sport massage ini diberikan setelah atlet menjalani masa pertandingan. 

C.  Sport massage bermacam aktivitas olahraga 
  1. tes kekuatan 
  2. tes daya tahan 
  3. tes kecepatan 
  4. tes kecakapan/skill 
  5. senam
  6. olahraga permainan 
  7. kegiatan pariwisata 
  8. olahraga lain 
D.  Manfaat terapi sport massage 

Sport massage untuk :
- higiene 
- terapeutik 
- cedera persendian 
- schele luka memar dan luka 
- schele fraktur 
- cedera otot dan tendon dan cedera syaraf 

Manfaat dan Tujuan Manipulasi Sport Massage
A.  Terapi Sport Massage Bagian Kepala

Perlakuan sport massage bagian kepala diberikan dengan menyesuaikan anatomis kepala
Frontalis : perlakuan pada bagian dahi /depan 
Lateralis/temporalis : bagian samping kepala 
Posterior/occipitalis : bagian belakang 
Manipulasi yang diberikan adalah Effleurage dan friction. 

B.  Terapi Sport Massage Bagian Leher

Terdiri dari dua bagian yaitu bagian muka /anterior dan bagian belakang /posterior. Pada region ini terdapat organ yang penting seperti : trachea, esophagus, pembuluh darah besar (arteri carotic, vena jugularis), saluran limphe dan persyarafan, kelenjar ganglion lymphe cervical dan kelenjar thyroid dan parathyroid. 
Leher bagian muka menggunakan manipulasi Effleurage, friction ringan, petrisage dan vibration. 
Leher bagian belakang menggunakan manipulasi effleurage, friction, petrisage, cabik dan vibration. (khusus leher bagian belakang perlakuannya sampai pundak).

C.  Terapi Sport Massage Bagian Thorax/Dada

Bertujuan Merangsang system respirasi biasanya karena masalah asmatis, sesak nafas atau nyeri dada. Menggunakan manipulasi effleurage, friction, cabikan, tapotament, vibration dan shaking. 

D.  Terapi Sport Massage Bagian Abdominal/Perut

Pada bagian ini diberlakukan manipulasi yang agak ringan tekanannya. Dengan manipulasi effleurage, petrisage, friction ringan dan shaking ringan. Bertujuan untuk meringankan gangguan di perut seperti sembelit dan sakit perut lainnya serta membantu menghilangkan lemak di otot perut. 

E.  Sport Massage untuk Prestasi dan Pertandingan

Perlakuan sport massage untuk prestasi dan pertandingan perlakuannya akan berbeda dengan perlakuan pasien. Karena tingkat kebugaran olahragawan ini lebih tinggi dibandingkan dengan pasien maka manipulasi yang diberikan akan lebih keras dan lebih cepat. 

a.  Sport massage pra competition 
Sport massage yang dilakukan sebelum masa pertandingan dan sebagai massage persiapan pertandingan. Maksudnya untuk meningkatkan derajat suhu tubuh dan mempersiapkan otot-otot dan persendian atau pemanasan /warming-up.
Manipulasi yang diberikan adalah friction yang kuat, petrisage , vibration dan shaking yang kuat. 

b.  Sport massage in competition/during competititon
Selama masa pertandingan sport massage ini diberikan misalnya saat jeda tanding, saat mengalami gangguan otot atau sendi misalnya kram otot. Tujuannnya untuk tetap mengaktifkan system sirkulasi darah dan oksigenasi dan menghilangkan tumpukan asam laktat. Manipulasi yang diberikan adalah shaking kuat, tapotament kuat dan shaking kuat. 

c.  Sport massage post competition
Sport massage ini diberikan setelah melakukan masa pertandingan dengan maksud untuk merelaksasi otot dan persendian yang telah bekerja keras. Manipulasi yang diberikan adalah general sport massage /massage seluruh tubuh. 

E.  Terapi Sport massage untuk Kulit

Bertujuan untuk mengaktifkan sirkulasi darah, elastisitas kulit dan perangsangan syaraf. 
Manipulasi yang diberikan adalah effleurage, friction, vibration dan tapotament. 
Effleurage : perlakuan selama 10 – 20 menit akan mengaktifkan system sirkulasi kulit, memperbesar sirkulasi darah permukaan dan bagian dalam, merangsang pergantian dan pengaturan sirkulasi lymphe dan hormonal serta untuk kebersihan dan kesegaran kulit. 
Friction : akan melatih fleksibilitas dan elastisitas kulit, memobilisasi jaringan kulit dan merangsang sirkulasi pergantian dan ekskresi. 
Tapotament : akan merangsang syaraf motorik dan syaraf sensitife. 
Vibration : sangat bagus untuk sirkulasi local dan pengeluaran sisa metabolisme.

sumber: 
http://asosiasisportsmassageindonesia.blogspot.com/2009/08/fisioterapi-olahraga-dengan-sports.html

jurnal fisioterapi : http://jurnal-fisioterapi.blogspot.com/2012/07/fisioterapi-olahraga-dengan-sport.html

FISIOTERAPI PADA DOWN SYNDROME


FISIOTERAPI PADA DOWN SYNDROME
Dari : Joweer
Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor Development)
Perkembangan motorik kasar adalah tahap awal dalam perkembangan setiap anak. Dalam Down Syndrome, fisioterapi menggunakan tahap perkembangan motorik ini untuk mencapai manfaat yang maksimal dan menguntungkan untuk tahap perkembangan yang berkelanjutan. Tujuan dari fisioterapi disini adalah membantu anak mencapai perkembangan terpenting secara maksimal bagi sang anak, yang berarti bukan untuk menyembuhkan penyakit down syndromenya. Dan ini harus dikomunikasikan sejak dari awal antara fisioterapis dengan pengasuhnya supaya tujuan terapi tercapai.

Tujuan Fisioterapi

Fisioterapi pada Down Syndrom adalah membantu anak belajar untuk menggerakkan tubuhnya dengan cara/gerakan yang tepat (appropriate ways). Misalkan saja hypotonia pada anak dengan Down Syndrome dapat menyebabkan pasien berjalan dengan cara yang salah yang dapat mengganggu posturnya, hal ini disebut sebagai kompensasi. Tanpa fisioterapi sebagian banyak anak dengan Down Syndrome menyesuaikan gerakannya untuk mengkompensasi otot lemah yang dimilikinya, sehingga selanjutnya akan timbul nyeri atau salah postur. Jadi tujuan fisioterapi adalah untuk mengajarkan pada anak gerakan fisik yang tepat. Untuk itu diperlukan seorang fisioterapis yang ahli dan berpengetahuan dalam masalah yang sering terjadi pada anak Down syndrome seperti low muscle tone, loose joint dan perbedaan yang terjadi pada otot-tulangnya. Intensitas Terapi

Biasanya fisioterapi akan menjadwalkan anak dengan Down Syndrome seminggu sekali untuk terapi, tetapi terlebih dahulu fisioterapi melakukan pemeriksaan dan menyesuaikan dengan kebutuhan yang dibutuhkan anak dlm seminggu. Disini peran orangtua sangat diperlukan karena merekalah nanti yang paling berperan dalam melakukan latihan dirumah selepas diberikannya terapi. Untuk itu sangat dianjurkan untuk orangtua atau pengasuh mendampingi anak selama sesi terapi agar mereka mengetahui apa-apa yg harus dilakukan dirumah.

FISIOTERAPI All In One : http://feedproxy.google.com/~r/FisioterapiAllInOne/~3/GYx71fVMdmo/fisioterapi-pada-down-syndrome.html

Peran Fisioterapi pada Angkat Besi

Angkat besi (weight lifting) merupakan cabang olahraga yang bersaing untuk mengangkat beban berat yang disebut dengan barbel, yang dilakukan dengan kombinasi dari kekuatan, fleksibilitas, konsentrasi, kemampuan, disiplin (sangat penting), atletis, fitnes, teknik, mental dan kekuatan fisik.

Jenis angkatan 

Dalam olahraga ini, ada dua jenis angkatan yang sering dilombakan, yakni angkatan clean and jerk dan snatch.
  • Snatch
Barbel ditempatkan horisontal di depan kaki lifter. Ke-dua tangan mencengkram, palms downwards dan menariknya dalam satu gerakan dari platform samapai ekstensi penuh dari kedua lengan diatas kepala, sedangkan salah satu kaki splitting atau bending. Selama gerakan terus menerus, barbel dapat meluncur disepanjang paha dan putaran. Tidak ada bagian tubuh selain kaki dapat menyentuh platform selama pelaksanaan lift. Berat, yang telah diangkat, harus dipertahankan dalam posisi akhir diam, lengan dan kaki ekstensi, kaki pada garis yang sama, sampai Wasit memberikan sinyal untuk memindahkan barbell pada platform. Lifter dapat memulihkan tenaga dengan sendirinya, baik dari sebuah split atau suad position, dan berakhir dengan kaki pada garis yang sama, sejajar dengan bidang trunk dan barbel. Para Wasit memberikan sinyal untuk menurunkan barbell segera setelah lifter terdiam setelah penilaian.

Gambar 1.1 Jenis Angkatan Snatch (Sumber : www. weightlifting.org)
  • Clean and Jerk
Bagian pertama Clean
Barbel ditempatkan horisontal di depan kaki lifter. Ke-dua tangan mencengkram, palms downwards dan menariknya dalam satu gerakan dari platform ke bahu, sedangkan salah satu kaki splitting atau bending. Selama gerakan terus menerus, barbel dapat meluncur disepanjang paha dan putaran (lap). Barbel tidak harus menyentuh dada sebelum posisi akhir, kemudian bertumpu pada klavikula atau dada diatas puting atau pada lengan sepenuhnya ditekuk. Kaki lifter kembali ke garis yang sama, kaki lurus sebelum melakukan Jerk. 

Bagian kedua Jerk
Salah satu tungkai atlet difleksikan dan tungkai lain diekstensikan beserta pula lengan membawa barbel  samapai peregangan penuh pada lengan yang ekstensi secara vertikal. Menunggu para Wasit memberikan sinyal untuk menurunkan barbell segera setelah lifter terdiam setelah penilaian.

Gambar 1.2 Jenis Angkatan Clean and Jerk (Sumber : www.weightlifting.org)



UPAYA PREVENTIF DALAM ANGKAT BESI

Cidera yang dapat terjadi pada atlet angkat besi antara lain cidera pada punggung bagian bawah (LBP), dislokasi sendi siku, subdeltoid bursitis, subacromial bursitis, koyak tendon biceps, HNP dan hernia inguinalis. 
Hal yang terpenting pada latihan weight lifting untuk mencegah adanya cidera adalah stretching, warming up (pemanasan) dan latihan dengan pembebanan (weight training).

Stretching
  • Sebagai pemula, harus terlebih dahulu meregangkan tubuh (stretching) untuk mendapatkan fleksibilitas. 
  • Peregangan untuk setidaknya 5-6 menit harus menjadi bagian integral/terpadu dari pelatihan. 
  • Peregangan bertujuan mengendurkan otot-otot yang membuat otot contract and relax sepenuhnya dan memberikan latihan terbaik.
Peregangan tidak hanya melenturkan anggota tubuh tertentu saja, tetapi ini adalah cara yang dikenal terbaik untuk menjadi lebih fleksibel, meningkatkan mobilitas sendi, mencegah cedera latihan dan meningkatkan sirkulasi, postur dan menghilangkan stres.

Tujuan stretching :
  1. Memelihara kelenturan otot sehingga menghindari cedera.
  2. Meningkatkan LGS sehingga dapat berlatih lebih keras. 
  3. Memperbaiki fleksibilitas dan LGS yang kurang. 
  4. Menghilangkan produk sampah dari darah yaitu hasil metabolisme, dan oleh karena itu penting selama latihan di sela set.
Keuntungan lain pada stretching adalah mengurangi adanya DOMS (Delayes-Onset Muscle Soreness), hal ini didukung oleh sebuah studi baru-baru ini oleh American Journal of Sports Medicine yang dikutip dari http://www.exercisegoals.com telah menunjukkan bahwa fleksibilitas mengurangi kemungkinan nyeri otot. Penelitian telah menunjukkan bahwa kaku (stiff), otot kurang fleksibel mengalami kerusakan serat otot lebih dalam pada pelatihan berat yang secara intens mengakibatkan hilangnya kekuatan otot. Ketika berolahraga di hadapkan kerusakan otot, seperti yang diketahui, intensitas latihan dan efektivitas secara drastis akan berkurang. Ini adalah alasan lain mengapa harus mengambil peregangan yang serius. 5 menit dari latihan peregangan akan memberikan manfaat.

STRETCHING EXERCISE

¢Lying leg crossover

Gerakan 1
Gerakan 2
(
Sumber : http://www.exercisegoals.com)

¢Hip flexor stretch


¢Perfect piriformis hip glutestretch


¢Partner hamstring stretch


¢Partner quad stretch

Gambar 1

Gambar 2
(Sumber : http://www.exercisegoals.com) 

¢Shoulder  back lat  pec stretch



Warm-up
  • Latihan warm-up adalah kondisionig jantung dan memastikan bahwa jantung dan paru-paru bekerja untuk kapasitas penuh untuk memberikan otot dengan suplai darah. 
  • Memulai dengan treadmill selama 5 menit.
  • —Anda akan mulai dengan 2 set pemanasan mana Anda akan mengangkat tidak lebih dari 50% berat untuk latihan tertentu.
Weight training
  • Anda akan mulai dengan 2 set pemanasan dimana Anda akan mengangkat tidak lebih dari 50% berat untuk latihan tertentu.
  • Latihan dengan pembebanan diantaranya adalah building chest muscle, building shoulder muscle, building back muscle, building leg muscle, building arm and forearms dan building abdominal

jurnal fisioterapi : http://jurnal-fisioterapi.blogspot.com/2012/11/peran-fisioterapi-pada-angkat-besi.html